Trauma Healing dan Perpustakaan Keliling untuk Anak Korban Gempa NTT

by -71 Views

Anak-anak Korban Gempa NTT Dapat Perhatian Khusus di Posko Pengungsian

Jakarta, VIVA – Selain memenuhi kebutuhan dasar korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), pemulihan psikososial juga mulai diperkuat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak. Upaya tersebut dilakukan di posko pengungsian GOR Samador, Kabupaten Sikka, tempat anak-anak korban gempa mendapatkan pendampingan melalui kegiatan trauma healing dan akses perpustakaan keliling.

Kegiatan Trauma Healing dan Perpustakaan Keliling

Kehadiran trauma healing dan perpustakaan keliling di GOR Samador merupakan bentuk komitmen dalam memberikan penanganan yang lebih holistik bagi korban bencana. Bukan hanya sekadar pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga perhatian terhadap kondisi psikologis dan sosial masyarakat yang terdampak.

Dalam kegiatan trauma healing, anak-anak pengungsi diajak untuk bermain, belajar, dan berinteraksi dengan sesama. Melalui pendampingan tersebut, diharapkan anak-anak tetap memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan, mengurangi kecemasan, dan tekanan akibat situasi bencana yang mereka alami.

Pendampingan psikologis ini dilakukan dengan berbagai aktivitas yang disesuaikan dengan usia anak, mulai dari bermain, cerita, nyanyi, hingga aktivitas kelompok. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak agar tetap dapat melibatkan diri dalam kegiatan yang sesuai dengan dunia mereka, meskipun berada dalam kondisi pengungsian.

Peran Perpustakaan Keliling dalam Mempertahankan Aktivitas Belajar Anak-anak

Selain pendampingan psikologis, akses terhadap perpustakaan keliling juga menjadi aspek penting dalam menjaga aktivitas belajar anak-anak di tengah keterbatasan fasilitas pengungsian. Layanan ini hadir untuk memberikan alternatif kegiatan yang mendukung perkembangan intelektual anak-anak, sehingga mereka tetap dapat belajar dan bermain meskipun dalam situasi yang sulit.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan anak-anak korban gempa di NTT dapat pulih tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional. Langkah seperti ini membuktikan bahwa penanganan bencana bukan hanya tanggung jawab fisik semata, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan psikologis dan sosial masyarakat yang terdampak.

Source link