Buku “Broken Strings” menarik perhatianku karena telah menjadi viral belakangan ini. Begitu banyak kutipan dan pengakuan pribadi dari buku ini tersebar luas di media sosial, dan semua orang sepertinya merasa terhubung dengan isinya. Hal ini membuat saya semakin penasaran untuk mengetahui sebenarnya apa daya tarik dari buku ini yang mampu memicu tanggapan yang begitu besar seperti itu.
Ditulis oleh Aurélie Moeremans, “Broken Strings” adalah memoar yang mengangkat topik tentang manipulasi dan kekerasan emosional, hal yang jarang dibahas secara terbuka terutama dari sudut pandang orang yang mengalami langsung. Buku ini tidak hanya viral karena penulisnya yang adalah seorang aktris, tetapi juga karena ceritanya begitu dekat dengan banyak orang.
Aurélie membawa pembaca masuk ke dalam pengalaman masa kecilnya sejak halaman pertama: tumbuh dalam keterbatasan, patuh, pendiam, dan menekan emosi. Semua ini menjadi landasan yang penting untuk memahami hubungan-hubungan di masa selanjutnya. Saya mulai mengerti mengapa seseorang yang terbiasa “mengalah” sejak kecil akan kesulitan untuk menetapkan batas ketika sudah dewasa.
Dalam menjelaskan kisahnya di masa remaja dan dunia hiburan, “Broken Strings” tidak berusaha mencari sensasi. Tidak ada dramatisasi berlebihan atau upaya untuk menggambarkan diri sebagai korban sepenuhnya. Aurélie justru menunjukkan bagaimana hubungan yang pada awalnya terlihat normal bisa berubah menjadi penuh kontrol, tuntutan emosional, dan pelanggaran batas secara perlahan namun pasti.
Yang membuat buku ini begitu banyak dibicarakan adalah cara Aurélie menggambarkan kekerasan emosional dengan begitu halus. Tidak selalu melalui teriakan atau kekerasan fisik, tetapi lewat kata-kata kecil, sikap posesif yang dibungkus dengan perhatian, dan ekspektasi yang membuat korban terus merasa bersalah. Saat membaca, saya beberapa kali terhenti dan berpikir, “Oh, ini hal-hal yang sering kita anggap biasa.”
Gaya penulisan yang sederhana, mengalir, dan sangat personal membuat pembaca merasa terhubung dengan cerita. Aurélie tidak berusaha terdengar paling sakit hati atau paling kuat, ia hanya bercerita apa adanya. Karena itulah, ceritanya terasa jujur dan mudah untuk dihubungkan dengan pengalaman pembaca lain, terutama bagi yang pernah berada dalam hubungan toksik namun sulit untuk menjelaskannya.
Setelah selesai membaca, saya paham mengapa “Broken Strings” begitu cepat menyebar dari satu unggahan ke unggahan lain di media sosial. Buku ini memberi bahasa pada pengalaman yang seringkali sulit untuk diungkapkan. Meskipun tidak memberikan solusi instan, namun buku ini membantu pembaca untuk mengenali pola-pola dalam kekerasan emosional. Bahwa kekerasan tersebut jarang datang tiba-tiba, melainkan dibangun dari hal-hal kecil yang terus dinormalisasi.
Dirilis pada 10 Oktober 2025 dan dibagikan secara gratis melalui akun Instagram pribadi Aurélie, “Broken Strings” bukan sekadar memoar, tapi juga menjadi tempat aman bagi pembaca untuk merenung. Apakah viral atau tidak, buku ini berhasil karena kejujurannya. Bagi saya, rasa penasaran yang membuat saya membaca buku ini karena viral terbayarkan dengan refleksi yang masih menghantui setelah halaman terakhir.
