Kegiatan tahlilan di depan rumah Presiden ke-7 RI Joko Widodo telah menjadi viral di media sosial dan memicu berbagai reaksi dari masyarakat. Sebagian berpendapat bahwa kegiatan ini merupakan politisasi dari tradisi keagamaan, sementara yang lain melihatnya sebagai ekspresi doa yang sah dan merupakan bagian dari budaya masyarakat.
Mohamad Guntur Romli, seorang politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), menilai bahwa tahlilan adalah tradisi sakral yang seharusnya terjaga dari kepentingan politik. Menurutnya, tahlilan adalah bentuk doa dan zikir yang mengarahkan kepada kesucian Allah. Penggunaan tahlilan untuk kepentingan politik atau penyembahan terhadap individu tertentu dianggap merusak makna spiritualitasnya.
Di sisi lain, beberapa warga yang ikut serta dalam kegiatan tahlilan tersebut membantah tuduhan politisasi. Mereka menyatakan bahwa kegiatan ini adalah doa bersama yang dilakukan secara sukarela tanpa ada ajakan politik atau kampanye terkait. Menurut peserta yang ikut dalam kegiatan tersebut, tahlilan adalah bagian dari tradisi sosial-keagamaan yang biasa dilakukan di berbagai tempat, termasuk di rumah tokoh masyarakat. Selama isi doa tetap dijaga dan tidak ada pesan politik yang disampaikan, kegiatan semacam ini dianggap sah dan sesuai.
Publik mengaitkan polemik seputar kegiatan tahlilan ini dengan konteks lokasi dan orang yang terlibat di dalamnya. Karena kegiatan dilakukan di dekat rumah seorang tokoh nasional seperti Jokowi, berbagai aktivitas di sekitarnya cenderung diinterpretasikan sebagai pesan politik. Karena itulah, muncul perbedaan pandangan dan persepsi dari masyarakat terhadap kegiatan tersebut.





