Bulan Ramadan menjadi ajang perdebatan sengit di media sosial antara dua tokoh publik, Muhaimin Iskandar dan Muhammad Said Didu. Perbedaan pandangan mereka menciptakan diskusi luas tentang batasan kritik dan etika komunikasi selama bulan suci. Wakil Ketua DPR RI, Muhaimin Iskandar, mengungkapkan keprihatinannya atas saling serang antarwarganet di platform digital selama Ramadan. Dia menyoroti fenomena ini yang dianggap bertentangan dengan semangat bulan puasa. Sementara itu, mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, menegaskan bahwa kritik terhadap pihak yang dianggap merugikan negara, terutama koruptor, seharusnya tidak dibatasi bahkan saat Ramadan. Perdebatan ini memicu reaksi beragam di kalangan warganet, dengan sebagian mendukung pandangan Said Didu bahwa kritik terhadap korupsi harus tetap dilakukan kapan pun, sementara yang lain merasa Ramadan seharusnya menjadi waktu untuk menahan diri dari konflik dan perdebatan yang tidak produktif. Kedua tokoh ini memberikan perspektif yang berbeda mengenai dinamika opini publik dan etika berkomunikasi selama bulan suci.
Perdebatan Ramadan: Muhaimin Iskandar vs Said Didu.

