Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak semestinya diukur dari seberapa besar warisan pribadi yang ditinggalkan. Menurut dia, pemimpin yang sesungguhnya justru harus memikirkan keberlanjutan pekerjaan melalui generasi penerus.
Pernyataan itu disampaikan AHY saat peluncuran buku Kepemimpinan AHY: Dalam Beragam Sudut Pandang Tokoh Muda Indonesia di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 24 September 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia membicarakan orientasi kepemimpinan yang tidak berhenti pada kepentingan politik jangka pendek.
Kepemimpinan melampaui siklus pemilu
AHY menilai seorang pemimpin tidak seharusnya hanya berfokus pada ambisi untuk meninggalkan legacy atau legasi pribadi. Orientasi kepemimpinan, kata dia, harus melampaui siklus politik dan pemilihan umum.
“And true leadership is not about the next election. It is about the next generation,” kata AHY dalam pidatonya.
Pernyataan tersebut menegaskan pandangan AHY bahwa ukuran kepemimpinan bukan semata-mata hasil yang dapat dikaitkan dengan nama seorang pemimpin selama masa jabatannya. Perhatian utama juga harus diarahkan pada masa depan bangsa dan keberlanjutan pekerjaan setelah masa kepemimpinan berakhir.
Ia menjelaskan, salah satu tugas penting pemimpin adalah menyiapkan “tongkat estafet”. Pemimpin perlu memastikan terdapat sosok atau generasi berikutnya yang mampu melanjutkan pekerjaan yang belum selesai pada masa kepemimpinannya.
Menyiapkan penerus dan pekerjaan yang berkelanjutan
“Jadi pemimpin sejati tentu tidak sibuk hanya memikirkan legasi apa yang ingin saya tinggalkan, tapi ia harus sibuk untuk memikirkan sekaligus menyiapkan siapa yang akan melanjutkan hal-hal yang belum bisa dicapai atau dituntaskannya ketika waktunya telah habis, ketika waktunya telah usai. Artinya berpikir next generation,” tutur dia.
Bagi AHY, menyiapkan penerus merupakan bagian dari tanggung jawab kepemimpinan, bukan pekerjaan tambahan yang dapat diabaikan. Seorang pemimpin harus menyadari bahwa tidak semua agenda dapat diselesaikan dalam masa tugasnya. Karena itu, kesinambungan pekerjaan bergantung pada kesiapan pihak yang akan meneruskan tanggung jawab tersebut.
Pandangan itu ia tujukan kepada para pemimpin lintas sektor, baik yang berada di pemerintahan maupun di tengah masyarakat. AHY berharap mereka membangun kolaborasi dan tidak terjebak pada kepentingan jangka pendek.
Menurut AHY, kerja bersama tersebut perlu diarahkan pada keadilan dan kesejahteraan bagi generasi yang akan datang. Dengan orientasi itu, kepemimpinan tidak hanya berbicara mengenai pencapaian pada masa kini, tetapi juga tentang siapa yang melanjutkan pekerjaan dan tujuan yang belum tuntas ketika masa kepemimpinan berakhir.



