Ngertakeun Bumi Lamba XVIII Menguatkan Pesan Pelestarian Lingkungan

by -64 Views

Tidak ada jaminan masa depan bumi bergantung pada generasi-generasi yang akan datang. Penentunya justru keputusan penting yang harus diambil oleh kita yang hidup saat ini. Di tengah peringatan atas ancaman krisis iklim dan rusaknya kawasan hutan, upaya menjaga alam kian menjadi tugas moral yang tidak bisa hanya dianggap sukarela. Kita memikul beban ekologi yang harus dituntaskan lintas zaman demi kelangsungan hidup bersama.

Makna ini tercermin kuat dalam perhelatan adat Ngertakeun Bumi Lamba ke-18 yang berlangsung di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, Subang, pada Minggu (21/6). Mengangkat tema “Manik Maya, Ibu Bumi, Bapak Angkasa”, ritual sakral ini mempertemukan pemimpin adat, pegiat budaya, dan aktivis lingkungan dari seluruh Nusantara dalam sebuah refleksi tentang relasi harmonis antara manusia dan lingkungan.

Pada momen penuh kesadaran ini, Andy Utama selaku Pembina Paseban Foundation menyuntikkan perenungan mendalam kepada seluruh peserta, “Karena ada hari ini, baru ada hari esok.” Kalimat ini menggema sebagai pengingat bahwa setiap tindakan kita hari ini akan menjadi pijakan bagi masa depan.

Jejak Pemikiran Lingkungan: Inspirasi Emil Salim hingga Konsep Keadilan Generasi Mendatang

Ritual adat Sunda ini bukan sekadar warisan tradisi, melainkan juga lekat dengan wacana dan sejarah panjang pemikiran ekologi tanah air. Sejak tahun 1970-an, Emil Salim mengusung gagasan pembangunan berkelanjutan yang mewajibkan ekonomi, ekologi, dan keadilan sosial berjalan beriringan tanpa menekan daya dukung bumi generasi setelah kita.

Pandangan ini sejalan dengan gagasan keadilan antargenerasi (intergenerational justice) yang diperkenalkan oleh Richard P. Hiskes. Konsep ini menegaskan beban moral penghuni bumi masa kini dalam memastikan hak anak cucu mereka atas lingkungan hidup yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Dengan pendekatan ini, Andy Utama mengundang masyarakat untuk melepaskan anggapan diri sebagai penguasa alam dan kembali mengambil peran aktif sebagai penjaga keseimbangan ekosistem.

Dari Pemikiran ke Tindakan: Konservasi di Megamendung

Bagi Andy, cinta pada bumi tidak cukup sebatas diskusi intelektual atau retorika kosong. Bersama tim Paseban Foundation, ia membawa filosofi luhur menjadi program nyata di kawasan Lanskap Megamendung.

Upaya yang dijalankan antara lain:

Kebun Organik: Mengadopsi metode bercocok tanam alami yang menjaga kesehatan tanah serta meminimalisir emisi karbon.

Perlindungan Satwa: Mendirikan pusat konservasi dan penangkaran di Lembah Aviary Paseban, menjalankan program reproduksi dan pelepasliaran satwa langka seperti Elang Jawa, serta menyelamatkan Rusa Timor dari ancaman punah.

Rehabilitasi Hutan: Menanam puluhan ribu bibit pohon dari ratusan jenis tanaman untuk memulihkan vegetasi alami Megamendung seperti seabad yang lalu.

Aksi penghijauan besar-besaran ini bukan hanya soal menanam, tetapi juga soal mengembalikan kejayaan dan fungsi hutan sebagai paru-paru bumi.

Warisan yang Sebenarnya: Bukan Harta, Tapi Kehidupan

Gerakan yang dimotori Andy berhasil memadukan pemikiran akademik besar dari Emil Salim maupun Richard Hiskes ke praktik nyata berupa bibit pohon, sekop, dan kandang satwa di lanskap nyata.

Dalam renungan penutupnya, Andy melemparkan pertanyaan mendalam tentang jejak yang akan ditinggalkan manusia kala paru-paru tidak lagi bernapas.

“Yang diingat bukan seberapa banyak harta yang kita punya, melainkan kontribusi nyata yang telah kita berikan pada kehidupan,” ujarnya tegas.

Pesan akhir inilah yang menjadi inti dari ritual Ngertakeun Bumi Lamba—bahwa dengan menjaga alam sekarang, kita menyiapkan ruang hidup bagi generasi masa depan, dan itulah warisan abadi manusia untuk bumi.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba XVIII: Tradisi Yang Menjadi Inspirasi Konservasi Modern
Sumber: Warisan Untuk Masa Depan: Belajar Menjaga Keseimbangan Alam Dari Ritual Ngertakeun Bumi Lamba XVIII