Sebuah pertemuan pembahasan terkait keamanan di Selat Hormuz melibatkan 22 negara, sebagian besar merupakan anggota NATO, dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, mengungkapkan hal ini pada Minggu. Rutte menyatakan bahwa 22 negara, kebanyakan merupakan anggota NATO, sudah berkumpul sejak Kamis untuk memastikan agar Selat Hormuz tetap bebas dan terbuka. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, Uni Emirat Arab, dan Bahrain juga turut ambil bagian dalam pembahasan tersebut. Meskipun langkah konkret belum dijelaskan, dibahasnya keamanan Selat Hormuz datang setelah serangkaian ketegangan di kawasan terkait serangan Amerika-Israel ke Iran dan serangan balasan dari Iran ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS. Situasi ini langsung berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk ke pasar global, menyebabkan lonjakan harga bahan bakar global. Putin, presiden Rusia, juga mencurigai ingin memecah belah NATO dan menawarkan sesuatu kepada Amerika Serikat dalam konteks konflik dengan Iran, yang dianggap sebagai ancaman bagi Uni Eropa.
Negara-negara Bergerak Amankan Selat Hormuz: Tengah Ketegangan Iran-AS





