BEM Bersatu Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa oleh Politik Praktis
Senin, 16 Juni 2026 – 21:40 WIB
Juru bicara BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, menyatakan penolakan terhadap segala bentuk penunggangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Menurutnya, gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara rakyat yang independen dan bukan alat elite dalam perebutan kekuasaan.
Mahasiswa Harus Menyuarakan Suara Rakyat
Rahmat Djimbula menyoroti bahwa beberapa aksi mahasiswa belakangan ini mulai kehilangan arah dengan minimnya kajian, lemahnya argumentasi, dan ketidakjelasan substansi tuntutan. Hal tersebut memunculkan keraguan apakah gerakan mahasiswa masih benar-benar mewakili suara rakyat atau sudah tersusupi oleh agenda politik tertentu.
Kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis
Selain itu, BEM Bersatu juga menyoroti isu-isu yang dibawa dalam aksi unjuk rasa, termasuk kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Rahmat mengungkapkan bahwa program tersebut seharusnya menjadi prioritas karena berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, namun dianggap tidak mendapat perhatian yang memadai.
Dugaan Keterlibatan Politik Praktis
Uniknya, BEM Bersatu juga menduga adanya keterlibatan oknum mantan petinggi militer dalam penolakan terhadap program MBG. Indikasi kuat ini terlihat dari keterlibatan Tiyo Ardianto, mantan Ketua BEM UGM, yang diduga memiliki kedekatan dengan jaringan politik tertentu. Hal ini menunjukkan potensi adanya penyalahgunaan gerakan mahasiswa untuk kepentingan politik praktis.





