Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Belakangan, publik dibuat terkejut dengan keterlibatan Yasika Aulia Ramadhani, anak Wakil Ketua DPRD Sulsel, dalam pengelolaan 41 dapur MBG. Psikolog Klinis dan Pengamat Sosial, Lita Gading, turut memberikan pandangannya terkait fenomena ini. Menurutnya, potensi monopoli oleh pihak-pihak tertentu menjadi penyebab utama terjadinya situasi tersebut. Lita menyoroti fakta bahwa seorang anak muda berusia 20 tahun memiliki yayasan yang mengontrol program makanan bergizi gratis, yang sebagian besar dikuasai oleh orang-orang DPR dan DPRD. Ia menyebut praktik tersebut sebagai bentuk monopoli yang dipenuhi oleh kepentingan politik.
Menurut Lita, pengelolaan MBG seharusnya tidak hanya jatuh ke tangan sekelompok orang yang memiliki kekuasaan. Ia menyayangkan bagaimana program tersebut dijalankan di lapangan, dengan sebagian besar pengelolaan kembali ke tangan orang tua masing-masing peserta dengan memberikan uang. Lita merasa geram melihat hal ini terjadi dan mengungkapkan bahwa tujuan asli dari program tersebut jauh dari harapan. Di sisi lain, Lita menilai bahwa niat baik dari pemerintah, terutama Presiden Prabowo Subianto, memiliki potensi positif. Namun, pelaksanaannya di lapangan cenderung menyimpang dari tujuan utama program tersebut. Selengkapnya dapat dibaca di sumber artikel.





