Dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Negeri 2 Pamekasan, Jawa Timur, terjadi insiden di mana 1.022 porsi menu lele mentah ditolak oleh pihak sekolah karena dianggap tidak layak konsumsi. Hal ini menimbulkan sorotan terhadap tata kelola dan sistem distribusi makanan dalam program tersebut, yang seharusnya memastikan peningkatan gizi anak sekolah melalui penyediaan makanan siap santap yang sehat dan aman.
Iman Zanatul Haeri, Kepala Bidang Advokasi Guru dari Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), menegaskan bahwa seluruh pihak terlibat dalam program MBG, mulai dari pegawai pengantar hingga siswa, menjadi korban dari sistem yang buruk dalam pelaksanaan program tersebut. Ia mempertanyakan kehadiran lele mentah sebagai menu MBG, yang seharusnya menyediakan makanan siap konsumsi.
Lebih lanjut, Iman menekankan bahwa masalah ini tidak hanya berkaitan dengan kualitas makanan yang diterima sekolah, tetapi juga dengan tata kelola program secara keseluruhan. Menurutnya, mengirimkan bahan makanan mentah ke sekolah dengan harapan langsung diterima adalah tidak masuk akal dan melukai akal sehat. Selain itu, evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi dan pengawasan dalam program MBG juga diperlukan untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.





