Ribuan klaim BPJS yang tersendat dan hilangnya stok obat di RSUD Tabanan Bali telah menimbulkan krisis serius yang mengancam kelangsungan layanan kesehatan publik. Masalah ini disebabkan oleh kendala teknis pada implementasi Rekam Medik Elektronik (RME) yang mulai diterapkan sejak Desember lalu. Direktur rumah sakit, dr. I Gede Sudiarta, mengungkapkan bahwa sekitar 9.000 berkas klaim BPJS macet karena kesalahan input data dalam sistem RME. Hal ini mengganggu arus keuangan rumah sakit karena pembayaran dari BPJS tertunda, yang mengakibatkan keterlambatan pembayaran kepada vendor, termasuk penyedia obat, sehingga stok obat menjadi langka bahkan hilang dari depo rumah sakit.
Dr. Ayu, seorang tenaga medis, menyampaikan kekecewaannya terkait langkanya obat-obatan di rumah sakit karena hutang ke vendor tak terbayar. Situasi ini bukan hanya sekadar masalah teknis, melainkan telah mencapai tingkat krisis operasional yang mengancam kelangsungan pelayanan pasien di rumah sakit pemerintah. Kritik juga datang dari Guru Besar Universitas Airlangga, Henri Subiakto, yang menilai proyek RME tidak tepat sasaran dan justru memperburuk layanan publik. Henri menganggap proyek ini hanya menghabiskan anggaran dan lebih fokus pada politik menuju 2029. Dampak negatif dari kebijakan ini telah terasa luas dan menunjukkan urgensi penyelesaian masalah ini.





