Baku bagi Carlos Sainz bukan sekadar lokasi balapan. Setahun setelah meraih podium pertamanya bersama Williams di Azerbaijan, pembalap Spanyol itu kembali ke kota tersebut dengan perasaan yang bertolak belakang: kenangan terbaik dari musim lalu hadir bersamaan dengan frustrasi akibat performa mobil yang tidak kunjung memenuhi target.
Saat tiba di Baku menjelang Grand Prix Azerbaijan 2026, Sainz mengatakan podium pada 2025 masih menjadi salah satu momen terbaik dalam kariernya. Namun, musim ini berjalan jauh lebih sulit. FW48 belum memberinya kesempatan untuk mengulang pencapaian tersebut, meski ia merasa kemampuan membalapnya berada pada level yang sangat tinggi.
Sainz merasa berada di puncak karier
“Saya merasa sedang menjalani tahun yang baik dari sisi performa pribadi. Saya berusia 32 tahun dan merasa sudah mendekati puncak karier. Saya merasa mengemudi dengan cukup baik tahun ini,” ujar Sainz.
Masalahnya, penilaian itu tidak tercermin dalam hasil. Berbagai kendala pada mobil membuat Williams gagal mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Sainz bahkan menyebut musim 2026 berisiko menjadi “tahun yang terbuang” dalam kariernya, meski ia berharap ini hanya menjadi musim yang aneh sebelum tim bangkit pada tahun berikutnya.
Sainz bergabung dengan Williams pada 2025 setelah sebelumnya memperkuat Toro Rosso, Renault, McLaren, dan Ferrari. Menurutnya, kontribusi utama yang ia bawa adalah pengalaman selama 12 tahun di Formula 1, kecepatan, serta pemahaman tentang cara kerja tim papan atas.
Ia menyebut pengalamannya di Ferrari dapat menjadi rujukan bagi Williams untuk memahami standar yang harus dicapai. Selain Sainz, principal James Vowles memiliki latar belakang dari Mercedes, sedangkan Alex Albon pernah berada dalam lingkungan Red Bull. Ketiganya, kata Sainz, berusaha membantu Williams kembali ke level tim-tim terkemuka.
Alasan tetap percaya pada Williams
Meski musim ini mengecewakan, Sainz tetap memilih berkomitmen pada Williams. Ia menyebut dua alasan utama: kepercayaan terhadap proyek dan visi jangka menengah hingga panjang, serta rasa diterima sejak hari pertama.
“Di Williams, saya merasa orang-orang benar-benar mendengarkan saya. Bagi seorang pembalap, itu sangat penting. Saya ingin merasa bahwa ketika berbicara, orang-orang mendengarkan dan beberapa hal bisa bergerak sesuai masukan saya,” katanya.
Ia mengakui kondisi Williams musim ini berbanding terbalik dengan 2025, ketika hasil yang diraih bahkan melampaui ekspektasi. Namun, suasana kerja yang ia rasakan mengingatkannya pada periode terbaik bersama McLaren. Menurut Sainz, pembalap dapat tampil maksimal ketika berada di lingkungan yang membuatnya merasa dipercaya.
Tekanan setelah meninggalkan Ferrari
Sainz juga mengungkapkan bahwa masa tersulit dalam kariernya terjadi setelah mengetahui dirinya akan meninggalkan Ferrari. Ia semula mengira akan bertahan lama di tim tersebut setelah melewati empat tahun yang dinilainya positif bersama Charles Leclerc.
Ia membutuhkan dua atau tiga bulan untuk kembali menemukan arah dan menentukan tujuan berikutnya. Setelah itu, performanya justru meningkat. Sainz meraih kemenangan di Australia, sejumlah podium, dan menjalani musim 2024 yang menurutnya sangat kuat.
Kenangan terbaiknya mencakup podium-podium bersama McLaren, empat kemenangan bersama Ferrari, serta tiga podium bersama Williams pada akhir 2025. Sebaliknya, tekanan terbesar ia rasakan saat masih berusia 11 hingga 14 tahun di dunia karting karena nama besar ayahnya. Meski sempat merasa diperlakukan berbeda, Sainz mengatakan dirinya tidak pernah menyesal mengejar Formula 1.
“Saya akan mengatakan kepada Carlos yang berusia 15 atau 16 tahun bahwa semua pengorbanan itu sepadan. Jangan khawatir. Dia akan berhasil, bahkan mungkin memiliki karier yang lebih baik daripada yang pernah dibayangkan,” ujar Sainz.





