Rentetan kisah tragis akibat tekanan ekonomi kembali mengguncang masyarakat, yang pertama adalah kisah seorang siswa SD di Nusa Tenggara Timur yang mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku, dan kini muncul cerita lain yang memilukan dari dunia pendidikan. Seorang mahasiswi di Surabaya terpaksa terlibat dengan hukum setelah mencuri ponsel, bukan untuk gaya hidup, melainkan demi bertahan hidup. Kisah ini diungkapkan oleh Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan melalui akun media sosial pribadinya.
Dalam proses mediasi, mahasiswi tersebut mengakui perbuatannya kepada Kapolrestabes, menunjukkan rasa penyesalan yang mendalam. Diketahui bahwa mahasiswi tersebut nekat mencuri karena ia benar-benar tidak memiliki uang. Korban pencurian memilih untuk berdamai dengan mahasiswi tersebut, menciptakan momen haru. Mahasiswi dan ibunya memohon maaf dengan tulus di hadapan korban, yang akhirnya memilih untuk memaafkan.
Selain itu, terungkap bahwa mahasiswi tersebut hanya menerima uang saku sebesar Rp200 ribu per bulan, jumlah ini harus mencukupi kebutuhan hidupnya selama satu bulan penuh. Pertemuan antara mahasiswi, korban, dan Kapolrestabes mengungkapkan ketidakmampuan mahasiswi tersebut dalam hal finansial. Meskipun keputusan korban untuk berdamai menciptakan suasana haru, tetapi cerita ini tetap menyoroti kondisi ekonomi beberapa individu dalam masyarakat.





