Meninggalnya YBS, seorang murid SD di Nusa Tenggara Timur karena diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pena dengan harga murah, telah menimbulkan kesedihan yang mendalam. Yusuf Dumdum, seorang pegiat media sosial, menyebut peristiwa ini sebagai tragedi kemanusiaan yang mencerminkan kegagalan banyak pihak dalam melindungi anak-anak, terutama dari keluarga kurang mampu. YBS, yang masih duduk di kelas IV SD, harus menghadapi beban hidup yang begitu berat karena keterbatasan ekonomi keluarganya.
Yusuf menyoroti ironi nasib YBS yang harus mengakhiri hidupnya hanya karena buku dan pena yang sebenarnya harganya tak seberapa. Latar belakang keluarga korban juga diungkap, dimana ayahnya sudah meninggal sejak dia masih dalam kandungan, sehingga ibunya menjadi tulang punggung keluarga dan menafkahi anak-anaknya sendirian. Keterbatasan ekonomi membuat ibu YBS sulit memenuhi permintaan anaknya, padahal YBS dikenal cerdas dan periang.
Yusuf menyatakan bahwa tragedi ini seharusnya menjadi sebuah pukulan keras bagi negara untuk lebih memperhatikan masalah akses pendidikan bagi anak-anak miskin.





