AIHII Jabodetabek Ajak Mahasiswa Lebih Peduli pada Dunia Global

by -89 Views

Isu mengenai kemungkinan terjadinya perang dunia baru semakin banyak didiskusikan belakangan ini, baik di media digital maupun pada perbincangan santai antar warga. Kekhawatiran seperti ini menjadi dasar utama terselenggaranya IR Youth Talks#1 yang diadakan Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek sebagai forum diskusi terbuka untuk membedah dinamika global yang tengah berlangsung.

Acara tersebut digelar di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP Universitas Indonesia pada 21 April 2026, dan menyoroti bagaimana posisi Indonesia dalam dunia internasional yang penuh tantangan.

Forum bertema “Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Global” mengawali diskusi dengan paparan Anggy Pasaribu, seorang jurnalis dan pendiri “Story of Anggy”, yang juga berlatar belakang ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Pelita Harapan.

Anggy mengajak peserta merefleksi apakah keresahan tentang meletusnya perang dunia memang benar-benar memiliki fondasi rasional atau hanya sekadar kekhawatiran belaka.

Alih-alih terburu-buru merespons kekhawatiran itu, Anggy menyarankan agar peserta tidak terjebak pada ketakutan semata, melainkan memperluas wawasan agar bisa menganalisa situasi global secara lebih jernih.

Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso, Direktur Kajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI, menegaskan pentingnya generasi muda agar tak mudah terpancing dengan isu perang dunia yang sering kali hanya berupa spekulasi. Menurutnya, perhatian generasi penerus mesti difokuskan pada persiapan menghadapi krisis-krisis yang secara nyata bisa terjadi akibat dinamika global yang terus berubah.

Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan nasional merupakan strategi kunci, sehingga negara tidak hanya sibuk meramal konflik global, melainkan juga membangun pertahanan untuk skenario terburuk.

Aloysius menjelaskan bahwa Lemhannas secara serius memetakan segala macam potensi ancaman global dengan metode penilaian menyeluruh—termasuk analisa kerentanan ekonomi dan politik Indonesia dalam peta persaingan kekuatan besar di regional Indo-Pasifik.

Analisis Lemhannas memperlihatkan Indonesia memiliki berbagai tantangan, seperti ketergantungan pada impor energi dan pangan, serta posisinya yang rawan akibat rivalitas antarnegara besar di sekitarnya.

Keadaan ini mengakibatkan setiap ketegangan internasional bisa langsung mengganggu kestabilan ekonomi maupun keamanan dalam negeri, baik lewat perubahan harga global maupun gangguan di jalur logistik vital.

Di tengah situasi semacam itu, Aloysius kembali menegaskan sentralitas Pancasila sebagai pondasi kebangsaan yang dapat mengokohkan Indonesia. Ia meyakini keutuhan ideologi bangsa berperan besar dalam menahan guncangan eksternal yang mungkin menerpa.

Menurut dia, kekuatan bangsa tidak hanya bersandar pada militernya atau kapasitas ekonominya, tetapi juga pada soliditas nilai-nilai yang mempersatukan seluruh elemen masyarakat.

Broto Wardoyo, Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia, mengajak peserta agar memahami turbulensi global melalui lensa konseptual, bukan sekadar reaksi spontan.

Ia menjelaskan, berbagai krisis yang kini terjadi bukanlah satu pertanda jelas ke arah perang dunia, melainkan bagian dari proses perubahan besar dalam sistem internasional.

Ia menambahkan bahwa krisis saat ini bisa dilihat sebagai jaringan masalah yang saling terkait, mulai dari konflik politik hingga persoalan energi dan ekonomi, yang sulit diprediksi hasil akhirnya.

Broto juga menyoroti pengaruh kebijakan Donald Trump dalam melipatgandakan ketidakpastian global, dimana langkah-langkah politik yang diambil berimbas pada meningkatnya instabilitas di kancah internasional.

Sebagai solusi, Broto memperkenalkan strategi ketahanan melalui pendekatan resilience-based hedging, yakni upaya mengombinasikan keluwesan dalam diplomasi dengan penguatan kapasitas dalam negeri secara bertahap dan konsisten.

Konsep tersebut penting agar Indonesia tidak mudah goyah oleh efek domino dari perubahan global, serta tetap memiliki daya tahan menghadapi berbagai potensi krisis.

IR Youth Talks menjadi wadah para mahasiswa, akademisi, dan pengambil kebijakan bertemu dan saling berdiskusi secara setara dalam suasana yang terbuka. Kegiatan ini melibatkan enam perguruan tinggi anggota AIHII Jabodetabek, antara lain Universitas Indonesia, Universitas Pertamina, Universitas Bina Nusantara, Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Universitas Jayabaya, dan Universitas Budi Luhur.

Pada kesempatan itu, Jeanne Francoise, dosen Hubungan Internasional President University mewakili AIHII, menyampaikan bahwa forum ini memang dirancang mendekatkan isu Hubungan Internasional ke kalangan mahasiswa dari berbagai universitas.

Ia berharap agar diskusi-diskusi semacam ini membekali generasi muda dengan pengetahuan dan kepekaan terhadap tantangan global, sehingga mereka tidak hanya menjadi penonton perubahan zaman.

Di akhir acara, Anggy menutup dengan mengingatkan bahwa ruang publik mesti tetap terbuka untuk kritik, namun penyampaiannya harus santun dan tepat sasaran.

Ia menegaskan, partisipasi generasi muda dalam isu-isu publik tidak selalu soal menyuarakan protes keras, melainkan tentang membangun pemahaman yang solid serta berdialog secara produktif.

Anggy menambahkan bahwa walaupun ketidakpastian global itu sangat nyata, cara menyikapinya perlu dilandasi kewaspadaan, kesiapan, dan pemahaman menyeluruh, bukan semata kekhawatiran yang justru bisa mengaburkan rasionalitas masyarakat.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko