Sebuah bandara di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah diketahui beroperasi secara misterius sejak 2014. Bandara khusus ini terletak di area pertambangan nikel tanpa pengawasan dari aparat negara, seperti petugas bea cukai dan imigrasi. Profesor Henri Subiakto, seorang pakar Ilmu Komunikasi Politik, mempertanyakan keberadaan bandara yang dimiliki oleh perusahaan asing ini tanpa pengawasan resmi. Dia menyatakan keheranannya karena baru menjadi sorotan pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, meskipun sudah beroperasi selama bertahun-tahun.
Prof. Henri menyoroti kurangnya pengawasan kepolisian dan pemerintah setempat terhadap bandara tersebut. Dia mempertanyakan siapa yang memberikan izin kepada orang asing untuk bebas masuk dan keluar tanpa memperhatikan kedaulatan negara. Ia juga menyinggung tentang kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan ketika orang asing dapat mengakses bandara tersebut tanpa hambatan.
Lebih lanjut, Prof. Henri mengecam pihak-pihak yang memberikan perlakuan istimewa dan kelangkaan terhadap aktivitas di bandara tersebut tanpa mengindahkan hukum dan aturan yang berlaku. Dia menyerukan kepada Presiden Prabowo untuk menegakkan kedaulatan negara dan menindak tegas segala bentuk penyimpangan yang terjadi.
Prof. Henri juga menekankan bahwa segala tindakan tersebut dilakukan demi kepentingan elit, bukan untuk kesejahteraan rakyat. Hal ini menunjukkan pentingnya penegakan hukum dan keteraturan dalam menjaga kedaulatan negara serta kepentingan masyarakat secara luas.





