Dalam sejarah kejuaraan dunia Formula 1, posisi start terdepan telah membawa kemenangan sebanyak 43,2 persen dari total keseluruhan grand prix yang dimainkan. Namun, sejak debut Charles Leclerc pada 2018, persentase kemenangan dari posisi start terdepan meningkat menjadi 50,3 persen. Hal ini disebabkan oleh 27 pole position yang berhasil diraih oleh Leclerc selama karirnya. Dalam beberapa balapan tertentu, seperti GP Bahrain 2019 di mana Leclerc turun ke posisi ketiga dan GP Singapura 2019 di mana ia hanya mampu finis sebagai runner-up, kita melihat bagaimana pengaruh posisi start terdepan bisa berubah dalam dinamika balapan.
Satu contoh yang menarik adalah GP Italia 2019 di Monza di mana Leclerc berhasil meraih kemenangan dengan mengalahkan pembalap Mercedes, Valtteri Bottas. Namun, tidak selalu posisi start terdepan membawa kemenangan bagi Leclerc, seperti dalam GP Meksiko 2019 di mana strategi dua pemberhentian gagal dan membuatnya finis di urutan keempat. Begitu juga dalam GP Monako 2021 di mana Leclerc harus DNS setelah mengalami kecelakaan sebelum balapan dimulai.
Leclerc juga menunjukkan performa yang impresif dalam beberapa balapan lain, misalnya GP Australia 2022 di mana ia berhasil memenangkan lomba dengan selisih waktu yang signifikan. Namun, ada juga balapan di mana Leclerc harus puas menjadi runner-up atau bahkan harus menyerah karena kerusakan mesin atau kecelakaan yang membuatnya DNF.
Dari sejarah balapan Leclerc, terlihat bahwa faktor-faktor seperti masalah mekanis, kesalahan strategi, kesialan safety car, atau kesalahan pembalap sendiri bisa menjadi penyebab kegagalan Leclerc dalam memenangkan balapan. Meskipun telah meraih beberapa kemenangan yang mengesankan, Leclerc juga harus belajar dari kegagalan dan terus memperbaiki performanya untuk meraih hasil yang lebih baik di masa depan.





